Lebaran kemarin, Joko Pinurbo mungkin tak menikmati Khong Guan. Ia dalam kondisi sakit. Berbaring di ranjang, ia sedang menghadirkan puisi “berbeda” meski berulang menggubah puisi berurusan tidur dan ranjang. Puisi-puisi menguak religiositas, humor, keluarga, politik, dan biografi.
Pada saat ia berbaring dengan doa dan percakapan batin, ribuan atau jutaan orang menghadapi kaleng Khong Guan. Sekian orang pun membuat penghormatan dengan membaca buku berjudul Perjamuan Khong Guan (2020).
Joko Pinurbo beragama Katolik tapi rajin menggubah puisi mengenai Ramadhan dan Lebaran. Ia pun fasih menggunakan idiom atau ungkapan “melekat” dalam dakwah Islam di Indonesia, dicantumkan dalam puisi-puisi menebar pesan kerukunan, selaras, dialog, dan kebersamaan.
Di buku berjudul Kabar Sukacinta (2021), kita membuktikan perhatian Jokpin atas tatanan hidup umat Islam di Indonesia. Ia tampil sebagai “pendakwah” dengan keluguan dan kelucuan. Kita berhak menempatkan Joko Pinurbo dalam arus puisi sufistik di Indonesia. Sodoran puisi-puisi mengenai doa bisa dijadikan album penting dalam pergumulan sastra dan religiositas. Joko Pinurbo tak sekadar mengajak tertawa setara humor sufi tapi mengantar pembaca dalam “ibadah-ibadah” kesederhanaan.
Di puisi berjudul Pengakuan Dosa, kita mengerti kelakar dan penghambaan Joko Pinurbo. Ia berdoa dalam kesungguhan meski kita menduga cengengesan: “Tuhan, saya ingin meralat doa-doa/ yang pernah saya panjatkan. Doa saya/ banyak yang gombal: lamis, basa-basi,/ dan caper. Namun, jika doa-doa saya/ diedit dan dikoreksi, jangan-jangan/ yang tersisa hanya Amin.”
Kini, kita menjadi pendoa untuk Joko Pinurbo yang telah pamit dari dunia: 27 April 2024. Kita memiliki selera berdoa berbeda tapi berharapan Tuhan membahagiakan si pengarang bertubuh ringkih dan mewariskan ratusan puisi bakal terkenang sepanjang masa di Indonesia.
Kita membaca lagi puisi pendek berjudul Doa Khong Guan. Kita diharapkan tak terlalu bersedih saat Joko Pinurbo pamitan. Ia berulang mengucapkan ajakan-ajakan “bergembira” dalam ikhtiar mengerti hidup-mati. Di hadapan kita, puisi itu mengingatkan keluarga: “Doa ibu yang diperam/ dalam kaleng Khong Guan/ sudah matang, sudah siap/ dihidangkan di meja makan/ untuk anaknya yang entah/ kapan akan pulang.”
Dulu, kita membaca puisi itu sambil mesem dan terharu. Kita mengimajinasikan ibu menanti anak. Pulang sebagai peristiwa kebersamaan dan keutuhan. Pada hari kita sempat bersedih saat Joko Pinurbo “pulang”, larik-larik itu menguak penantian dan kehilangan.
Selama puluhan tahun, Joko Pinurbo dengan ratusan puisi membentuk percakapan dengan pembaca. Ia sadar sedang melakukan perjumpaan disahkan kata-kata dan kembara makna. Di pelbagai perjumpaan, puisi-puisi Joko Pinurbo menjadi sumber kutipan. Sosok itu memberi pengaruh besar agar orang-orang “berpesta” dan “berdoa” dengan puisi setiap hari.
Buku-buku puisi Joko Pinurbo laris mengartikan orang-orang Indonesia masih puitis ketimbang politis. Puisi-puisi itu menghindarkan pembaca dari mengumbar benci, marah, dan penghinaan. Hari-hari bersama puisi mirip usaha “beribadah” menjadi manusia “kalem” dan “waras”.
Buku bakal terkenang dan terbaca terus setelah Joko Pinurbo pamit: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016). Deretan kata itu tertulis dalam puisi mengenai puasa ditujukan kepada Hasan Aspahani. Semula, kita sempat kaget mengetahui “puasa” diganti “puisi”. Menit-menit setelah membaca puisi, kita mengerti tentang “main-main kata” memungkinkan orang bergerak dari pengalaman raga ke relung-relung religiositas.
Keberanian dalam sodoran kata-kata itu mudah memicu ingatan kita agar turut mengucap: “Selamat menunaikan ibadah puisi”. Kalimat berkaitan kesanggupan manusia menerjemahkan diri sebagai hamba berfaedah di dunia, bekal untuk akhirat. Ia biasa mengajak pembaca menjadi pendoa. Kita buktikan dengan membaca puisi berjudul “Sehabis Sembahyang”.
Joko Pinurbo (2005) menghadirkan doa dalam kesenjangan nasib orang-orang di Indonesia. Ia peka kemiskinan tanpa harus memekarkan omelan kasar mengarah orang-orang berlimpahan duit. Bait-bait mengandung lucu tapi menuntut keberpihakan: “Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku./ Terima kasih atas segala pemberianmu,/ mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru/ yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya/ agar aku bisa lebih cepat mencapaimu.// Sementara aku masuk ke rumahmu, kau malah/ pergi ke kantor pos kecamatan,/ mengambil jatah santunan seratus ribu./ Berbekal kartu tanda miskin, kau rela antri/ berjam-jam hingga bajumu yang masih baru/ langsung luntur oleh cucuran peluhmu.”
Kita merenungkan perwujudan dan dampak doa saat mengerti kesenjangan itu tampak mencolok di keseharian.
Doa memuat permintaan mobil itu menjelaskan kerakusan para pejabat atau kaum politik mata duitan di Indonesia. Mereka bernafsu mobil dalam pamer “menguasai” Indonesia dan kemanjaan duniawi. Di puisi berjudul Jalan ke Surga, Joko Pinurbo (2007) tak sungkan memberi kritik. Kita membaca sambil prihatin dan geleng-geleng kepala: “Jalan menuju kantorMu macet total/ oleh antrian mobil-mobil curianku.” Joko Pinurbo mengisahkan Indonesia bertema mobil, korupsi, birokrasi, dan hedonisme.
Kita tak bosan-bosan membaca dan mengutip puisi-puisi gubahan Joko Pinurbo untuk mengerti Indonesia. Kemarin, hajatan demokrasi dalam ketegangan “nafsu” dan “malu”. Joko Pinurbo dalam sakit tak menggubah puisi untuk mendokumentasi segala ruwet dan kisruh. Ia memberi kita ingatan dokumentasi pemilu lima tahun lalu.
Di puisi berjudul Demokrasi, Joko Pinurbo (2019) mengisahkan: “Di balik demokrasi/ yang boros dan brutal/ ada pesta pembagian doa/ untuk mengenang/ para petugas yang lembur/ dan mati di tempat/ perniagaan suara/ dengan honor tak seberapa.” Puisi wajib masuk dalam sejarah dan perkembangan pemilu di Indonesia. Joko Pinurbo menjadi perekam demokrasi saat terpuruk dan berduka.
Pada tahun mendatang, kita mengingat 27 April itu Joko Pinurbo. Setelah 21 April itu Kartini. Kita tetap ingat 28 April itu Chairil Anwar. Berita kematian dari Jogjakarta memberi “penetapan” untuk kita mengenang April dalam puisi dan doa.
Joko Pinurbo (1997) mengisahkan Kartini sebelum ia berada dalam ingatan kita setiap April: “Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk/ di bawah cahaya lampu remang-remang/ Tangan masih menyurat di atas kertas/ Hati melemas pada berkas-berkas cemas/ Angin merambat lewat kain dan kebaya/ Dingin merayap hingga sanggulnya/ Dan anak-anak kesunyian bergelayutan/ pada bulu matanya yang sayup/ yang mengungkai cahaya redup.”
Joko Pinurbo menuju dunia sana. Ia mungkin bertemu Kartini dan Chairil Anwar. Mereka telah memberi warisan tulisan-tulisan. Kita berjanji tak malas membaca dan mengajukan doa-doa. Kini, kita menanti orang-orang menggubah puisi bertokoh Joko Pinurbo. Puisi sejenis doa agar sosok itu tetap terkenang dengan ajakan menunaikan “ibadah-ibadah” mengandung kelucuan dan keharuan. Begitu.
Bandung Mawardi di Arina.id



